JAKARTA : the fastest sinking city…literally and economically

Ternyata, sekitar 40% luas Jakarta  sudah berada dibawah permukaan laut. Hal ini disebakan oleh adanya kenaikan permukaan laut (akibat pemanasan global) dan berkurangnya kandungan air didalam tanah (akibat pengunaan air tanah yang tidak terkontrol).

Credit: Muhammad Fadli/GroundTruth

Bukan hanya itu, Jakarta juga menghadapi penurunan ekonomi yang disebabkan oleh

  1. Munculnya bisnis digital yang merusak tatanan bisnis konvensional. Hal ini telah meminta banyak korban dari para pebisnis papan atas. Kita bisa melihat banyak Mal yang sepi ditinggal pelanggannya. Kawasan Glodok sebagai pusat bisnis masa lalupun sudah sepi pengunjung.
  2. Dahulu kala, menurut sahibul hikayat, uang yang beredar di Jakarta mencapai 70% dari perekonomian Indonesia. Dengan adanya program pembangunan infrastuktur yang masif diluar Jawa, maka banyak uang tersebut yang beredar keluar dari Jakarta.
  3. Dengan adanya perpindahan bisnis dari dunia nyata kedunia maya, banyak pebisnis juga yang mengurangi pegawainya dan menggantikanya dengan teknologi. Sebagai contoh kita bisa melihat bisnis perbankan. Dulu kita cape antri untuk setor uang ke bank. Sekarang sudah tersedia mesin EDM dimana-mana, yang menyebabkan bank dapat mengurangi para tellernya dan mengurangi kebutuhan space untuk cabang mereka. Trend ini berakibat pada berkurangnya lapangan pekerjaan dan berkurangnya permintaan akan office-space.
  4. Dengan semakin mahalnya sewa ruang perkantoran di Jakarta, banyak pebisnis yang memindahkan kantornya dari segitiga-emas kepinggiran Jakarta, bahkan keluar Jakarta. Yang bertahan di perkantoran elit mungkin hanya para Direksi dan front-office. Seluruh back-office sudah dipindah keluar Jakarta. Hal ini dimungkinkan karena apa? Jawabnya ya karena kemajuan teknologi !

Lalu, apa yang harus dilakukan Jakarta untuk meningkatan kembali perekonomianya ??? Ada beberapa hal yang ada dibenak saya :

  1. Jakarta memiliki banyak sekali stadium olahraga bertaraf internasional sisa-sisa perhelatan Asian Games 2018. Alangkah baiknya bila stadium olah raga ini dimanfaatkan untuk kejuaraan-kejuaraan international juga. Cabang olahraga bulutangkis sudah sering menggelar Piala Sudirman, cabang yang lain mana ? Bila ini bisa terlaksana, bukan hanya stadiunnya bisa terawat, juga economic-ripple-effect yang timbul dapat meningkatkan perekonomian Jakarta.
  2. Jakarta Juga memiliki Convention Centre bertaraf internasional untuk menampung kebutuhan MICE. Kenapa rapat IMF & World Bank diadakan di Bali, bukan di Jakarta ?                                                
  3. Jakarta juga punya gedung opera seperti Gedung Kesenian, tapi tidak punya penyelengaranya.                                                        
  4. Dengan banyaknya PHK di bisnis konvensional, Jakarta harus melatih-ulang para pekerja untuk siap terjun ke bisnis digital. Jakarta berpeluang untuk menjadi DIGITAL-HUB city dengan adanya dukungan internet-infrastructure yang cangih. Disinilah TERMINAL PEBISNIS DIGITAL akan berperan aktif mewujudkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *